Sebentar lagi puasa Ramadan dimulai. Seperti kebiasaan lama di keluarga kami, ada tradisi munggahan sebelum masuk bulan suci. Buat kami, munggahan berarti makan bersama terakhir sebelum puasa—ngumpul, ngobrol, dan tentu saja makan enak.
Tahun ini, aku, suami, dan anak-anak pergi ke rumah neneknya anak-anak di Kopo Sayati, Bandung. Saat melewati area Komplek Mekarwangi, aku tidak sengaja melihat sebuah restoran bertemakan Melayu. Dari situ langsung terlintas ide, “Kayaknya seru juga munggahan di sini, sekalian nyobain makanan khas Malaysia.”
Dan benar saja, restoran yang kami lihat adalah Nasi Lemak Banceuy.
Lokasi dan Suasana Restoran
Sore harinya kami sekeluarga besar menuju restoran. Lokasinya masih di sekitar Komplek Mekarwangi, tidak terlalu jauh dari rumah nenek. Tapi seperti biasa, area Cicukang menuju Cibaduyut sore hari memang langganan macet—jam bubaran karyawan pabrik bikin lalu lintas padat merayap.
Begitu sampai, suasananya cukup ramai namun masih nyaman untuk makan bersama keluarga besar.
Dari foto-foto yang sempat kuambil, interiornya didominasi warna cokelat dan krem dengan sentuhan ubin kecil putih ala kedai klasik Melayu. Di dinding terpajang foto-foto hitam putih yang memberi kesan historis dan sederhana. Tempat duduknya cukup rapat, model meja panjang dan kursi kayu—lebih ke konsep casual dining, bukan restoran mewah.
Nuansanya hangat dan cukup bersih. Cocok untuk makan keluarga, walau mungkin kurang private kalau datang rombongan besar.
Menu yang Kami Pesan
Kami langsung memilih beberapa menu utama:
- Nasi lemak komplit dengan kuah kari
- Nasi lemak komplit tanpa kuah kari
- Beberapa varian lauk seperti empal, dendeng, ayam krispi, dan paha ayam utuh
Dari tampilannya, sekilas aku sempat bercanda,
"Ini kayak nasi Padang ya?" Hehehe.
Satu piring nasi lemak disajikan dengan nasi gurih, kacang tanah, sambal, telur, timun, dan lauk pilihan. Untuk yang pakai kuah kari, kuahnya disiram cukup banyak hingga memenuhi pinggir piring.
Review Rasa Nasi Lemak Banceuy
Sekarang bagian paling penting: rasa.
Mamaku memesan versi dengan kuah kari. Katanya:
- Telurnya enak
- Dendengnya juga enak
- Tapi kuah karinya terlalu terasa santannya
- Yang jadi juara tetap nasi lemaknya. Gurihnya pas, wangi, dan memang jadi highlight utama di piring itu.
Aku, suami, adik, dan anakku memilih versi tanpa kuah kari. Lauknya beragam—ada empal, dendeng, ayam krispi, sampai paha ayam utuh.
Kesimpulan kami kompak:
Nasi lemaknya enak banget. Lauknya… so-so.
Bukan berarti tidak enak, tapi tidak terlalu spesial. Yang bikin pengen nambah itu justru nasinya, bukan lauknya.
Harga Menu Nasi Lemak Banceuy
Dari menu yang terlihat di foto:
- Set nasi biasa dengan satu jenis lauk mulai dari sekitar Rp20.000-an
- Set lebih lengkap (tiga jenis lauk di atas piring, sering disebut “nasi sultan”) sekitar Rp50.000-an
Untuk ukuran restoran di Bandung, harga ini masih tergolong terjangkau. Apalagi porsinya cukup mengenyangkan.
Minuman juga variatif, dari teh tarik, kopi, sampai minuman botolan klasik seperti sarsaparilla dan orange crush.
Aku sebenarnya ingin mencoba es kacang merah yang ada di menu, tapi apa daya… sudah terlalu kenyang.
Worth It untuk Munggahan?
Secara keseluruhan, menurutku worth untuk dicoba, apalagi kalau penasaran dengan nasi lemak khas Malaysia tanpa harus jauh-jauh ke luar negeri.
Lokasinya strategis di Komplek Mekarwangi Bandung, tempatnya cukup nyaman untuk makan keluarga, dan harga masih masuk akal.
Lokasi tepatnya ada di Jl. RD Rangga Kencana No.45, Mekarwangi, Kec. Bojongloa Kidul, Kota Bandung.
Tapi kalau ditanya apakah akan balik lagi dalam waktu dekat?
Hmm… kayaknya nggak dulu deh 😄
Buat pengalaman munggahan tahun ini, tetap terasa hangat karena kebersamaannya. Dan mungkin memang itu esensi sebenarnya dari munggahan—bukan soal makanannya saja, tapi soal momen sebelum Ramadan benar-benar dimulai.

0 Komentar