Meski Punya Anak, Hobi Harus Tetap Jalan


3 November 2026 - Di hari ketiga ini aku akan bercerita soal hobi. Semua orang punya hobi, tidak terkecuali. Bedanya, ada yang tetap bisa melakukan hobinya dan ada juga yang tidak karena terkendala kesibukan yang tidak ada habisnya. Begitupun aku dengan kesibukanku sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak. Aku punya hobi, tapi lebih sering tidak ada waktu melakukannya.

Aku punya beberapa hobi yang saling terkait. Baca buku, menulis blog, menulis jurnal, dan membuat video youtube. Semua itu terkait hobi membaca dan menulis. Tapi, apakah aku bisa melakukan semua hobiku? Tentu saja tidak. 

Ada hobi yang terpaksa harus aku hentikan, dan ada juga hobi yang mati-matian tetap aku lakukan. Apa saja? Lanjut baca di bawah.

Hobi Yang Aku Pertahankan dan Kesulitanku Menjalankannya

1. Membaca Buku

Di tengah gempuran drama AI, drama china dan short drama, aku masih tetap mempertahankan hobi membacaku. Alasannya sederhana, karena buku yang belum dibaca di rak masih banyak. Selain itu, ada studi yang menyebutkan bahwa membaca dapat mengurangi resiko terkena penyakit pikun. Selebihnya, mengurangi paparan gadget akibat doom scrolling. 

Tapi, kesulitanku adalah di waktu baca. Padahal resource-nya sudah maksimal, tapi eksekusinya minim. Buku fisik banyak, ereader juga bermacam-macam, aku juga bahkan selalu menyisihkan budget untuk membeli 1 buku baru setiap bulannya.

2. Menulis

Hobi selanjutnya yang aku coba pertahankan adalah menulis. Menulis ini ada 2 macam, menulis blog dan menulis jurnal. Keduanya tentu punya tujuan berbeda.

Menulis blog menjadi hobi dengan harapan bahwa akan menjadi passive income di kemudian hari. Menulis jurnal menjadi hobi untuk tetap membuatku waras di esok hari. Yup, jurnal jadi tempat buatku menuangkan keresahan, kekesalan, dan ide-ide liar yang tidak bisa aku ceritakan ke orang lain.

Kedua hobi ini jadi hobi yang mati-matian aku pertahankan. Walaupun aku kesulitan melakukannya setiap hari, setidaknya aku tidak melepas hobi-hobi ini dari kehidupanku.

Menjadi ibu dengan 2 anak, tentu membuat waktu luang untuk diri sendiri menjadi berkurang karena prioritas terbagi dengan mengurus keluarga. Terkadang bahkan aku tidak bisa melakukan hobiku karena tidak ada waktu luang.

Ketika aku baru duduk santai dan membuka jurnalku, bayi yang tadinya tertidur, terbangun. Padahal, baru 10 menit aku tinggalkan. Ketika aku baru duduk santai di sofa dan membuka novel yang akan aku baca di hari itu, anak pertamaku meminta disiapkan air untuk mandi dan meminta untuk disiapkan makan malam. Begitu terus..

Rasa Bersalah vs. Hobi

Temanku pernah bercerita, dia punya hobi berolahraga, seperti jalan santai atau hiking. Tapi untuk melakukan olahraga di luar ruangan seperti itu, apalagi di gunung, tentu perlu waktu luang yang tidak sebentar. Terkadang dia merasa bersalah karena meninggalkan rumah satu hari penuh dalam satu bulan untuk melakukan hobinya. Kemudian dia bertanya padaku, apakah aku pernah merasa bersalah seperti dirinya?

Sebelum anak kedua lahir, aku cukup sering menghadiri kegiatan club buku. Kegiatan ini tidak menyita waktu seharian, hanya beberapa jam saja. Biasanya, kegiatan dimulai dari jam 10 pagi, hingga jam 12 siang. Tapi, apakah aku pernah merasa bersalah? Tentu saja. Tapi aku meyakinkan diriku, bahwa aku berhak mendapatkan waktu untuk diri sendiri tanpa memikirkan hal lainnya. Khusus untukku sendiri. Dan itulah yang aku katakan pada temanku.

Caraku Mempertahankan Hobi


Kesulitanku untuk mempertahankan hobi-hobiku ini bertambah setelah anak kedua lahir. Anak yang masih bayi, tentu butuh perhatian lebih. Waktuku habis untuk mengasuh dan merawat anak keduaku ini. Waktu luang yang tadinya aku dapatkan disela-sela anak pertamaku sekolah, langsung hilang. Aku kembali kesulitan mencari waktu luang. Perlu 1 tahun sampai pada akhirnya aku punya cara untuk mempertahankan hobiku ini.

1. Pertahankan 1-2 Hobi, Sisihkan Hobi Lainnya

Dengan terpaksa aku harus memilih 1-2 hobi dan menyisihkan hobi lainnya. Hobi-hobi yang aku pertahankan itu sudah aku jelaskan di atas, yaitu membaca dan menulis. Hobi lainnya yang aku sisihkan adalah membuat video, dan bersosialisasi dengan pembaca lain.

Aku punya channel youtube, dan sudah 1 tahun ini tidak ada update apapun. Aku biasanya tergabung dengan club buku, mengikuti challenge membaca, dan menghadiri diskusi buku via online. Sekarang, semua aku tinggalkan. Untuk sementara, tentu saja. Sampai, mungkin, anak keduaku bersekolah. Dan itu, sekitar 4 tahun lagi. Huft.

2. Membaca Di Saat Anak Tertidur

Setelah aku pelajari polanya, anak keduaku kalau mau tidur sudah pasti harus menempel padaku. Jika aku tidak ada di kasur, 10 menit kemudian dia akan terbangun. Jadi, aku memutuskan untuk membaca disaat dia tertidur. Itupun kalau aku tidak ikut tertidur.

Kenapa harus saat tertidur? Kenapa tidak saat menyusu saja. Bukan tidak bisa, tapi tangan mungilnya akan meraih buku dan meraih ereader yang aku pegang lalu menariknya. Kalau sudah begitu, tetap saja aku kesulitan membaca dengan tenang. Padahal, kegiatan membaca itu perlu fokus.

3. Menulis Blog Di HP, Menulis Jurnal Saat Tidur

Seperti yang aku sudah bilang di awal, kegiatan menulisku ada 2 macam. Menulis blog dan menulis jurnal.

Sebenarnya jurnal yang aku miliki, mengharuskan aku menulis setiap hari. Jurnal jenis One Line A Day, dimana aku harus menulis 1-3 kalimat setiap harinya. Gak perlu yang serius, cukup tulis hal-hal yang berkesan di hari itu saja. Tapi, kegiatan sederhana begini saja, terkadang aku kesulitan. Akhirnya jurnal itu aku ubah jadi jurnal yang menuliskan segala macam hal. Yang penting aku tetap waras saja!

Menulis yang kedua adalah menulis blog. Selama setahun aku kesulitan karena pikiran idealisku mengatakan bahwa menulis blog itu harus dalam posisi duduk dengan laptop atau tablet di atas meja dan mengetik menggunakan keyboard. Dengan pemikiran ini, aku berhasil menunda menulis selama berbulan-bulan.

Lalu suatu hari, setelah aku menulis semua uneg-uneg di jurnal harian, tiba-tiba terbesit sebuah ide untuk membuat challenge menulis blog selama 30 hari. Gak perlu terlalu di-seo-seo-kan, gak perlu berpikir apakah tulisanku bagus atau tidak, yang penting adalah MENULIS. 

Dan saat aku menulis ini pun, aku memaksa diriku untuk menulis di HP, di waktu anakku tertidur sambil menyusui. Sungguh luar biasa pegalnya, terkadang juga kesemutan. 😭

Jadi, satu pesanku untuk ibu-ibu di luar sana dan juga untuk diriku sendiri, "jangan pernah membatasi dirimu, kamu berhak berkarya dan berkembang". Lakuin apapun yang mau kamu lakuin, karena yang terpenting bagi seorang ibu adalah kewarasan. Jika dengan melakukan hobi sederhana, harmless, dan no pricey bisa membuatmu bahagia, kenapa tidak dilakukan? Lakukan saja!



Posting Komentar

0 Komentar