Pengalaman melahirkan caesar sering kali bikin ibu hamil bertanya-tanya: sakitnya di mana, berapa lama pulih, dan sebenarnya seberat apa prosesnya. Aku juga pernah ada di fase itu.
Di kehamilan pertama, aku sama sekali tidak menyangka akan melahirkan lewat operasi caesar. Tapi keadaan memaksa. Tidak ada pembukaan dan air ketuban sudah memburuk, sehingga caesar menjadi pilihan paling aman.
Berbeda dengan kehamilan kedua. Kali ini, operasi caesar justru dipilih sejak awal. Bukan karena kondisi darurat, tapi karena aku sudah keburu takut dengan proses melahirkan normal.
Dari dua pengalaman itu, aku belajar satu hal: setiap proses melahirkan punya ceritanya sendiri.
Alasan Aku Menjalani Operasi Caesar
Pada kehamilan pertama, keputusan caesar diambil secara darurat. Saat dokter menyampaikan keputusannya, aku sudah pasrah. Fokusku hanya satu: bayi lahir dengan selamat.
Sementara pada kehamilan kedua, sebenarnya masih bisa menunggu persalinan normal. Namun aku dan suami memilih menentukan tanggal operasi. Aku punya ketakutan besar pada melahirkan normal—takut tidak bisa mengejan, takut sakit mulesnya, dan takut melihat darah.
Di kepalaku saat itu, operasi terasa lebih “terprediksi”. Aku tahu prosesnya dan tahu di mana letak sakitnya nanti.
Suasana Ruang Operasi Caesar
Ruang operasi selalu terasa dingin dengan lampu-lampu terang. Meski tidak terlalu luas, suasananya cukup menekan.
Saat melahirkan anak pertama, suasana ruang operasi justru cukup ramai dan santai. Dokter serta perawatnya ngobrol, bernyanyi, bahkan bercanda—mungkin agar aku tidak panik.
Sebaliknya, di kelahiran anak kedua, suasananya lebih hening karena berbeda rumah sakit.
Aku dibius setengah badan, jadi tetap sadar selama operasi. Saat proses berlangsung, aku merasakan tubuh seperti digoyang dan ditekan dari dada ke arah perut untuk mengeluarkan bayi. Tidak sakit, tapi jelas tidak nyaman.
Ketika bayi lahir, aku sadar sepenuhnya. Aku sempat melamun, memikirkan bagaimana nanti harus mengurus bayi lagi. Begitu mendengar tangisannya, rasa lega dan bahagia langsung muncul—bayiku lahir dengan selamat.
Sakitnya Caesar: Di Bagian Mana?
Setelah efek bius hilang, rasa sakit paling terasa di bagian perut, terutama area bawah bekas operasi. Ditambah lagi penggunaan kateter membuat tubuh sulit bergerak dan terasa pegal.
Jenis sakitnya bukan menusuk, tapi ngilu terus-menerus.
Gerak sedikit ngilu. Ketawa ngilu. Batuk pun terasa sakit sampai ingin menangis.
Hari pertama adalah fase paling berat. Di hari kedua dan ketiga, kondisinya mulai membaik. Bahkan aku sudah bisa berjalan pelan-pelan dan akhirnya diperbolehkan pulang.
Hari-Hari Awal Setelah Operasi Caesar
Di hari pertama, setelah kateter dilepas, aku sudah diminta duduk dan belajar berjalan. Tubuh terasa sangat lemas dan agak pusing—kemungkinan besar efek obat bius.
Menyusui di hari-hari awal terasa berat. Posisi sulit dan tubuh masih nyeri membuatku merasa tidak bisa menyusui dengan optimal. Rasanya campur aduk antara ingin memberikan yang terbaik, tapi kondisi tubuh belum siap.
Hal yang sangat membantu di fase ini adalah dukungan suami. Bahkan untuk sekadar bangun dari posisi tidur, aku membutuhkan bantuan. Tanpa support system, masa pemulihan pasti terasa jauh lebih berat.
Berapa Lama Pulih Setelah Melahirkan Caesar?
Hari kedua, aku sudah bisa berjalan ke toilet sendiri.
Sekitar satu minggu kemudian, aku mulai bisa berjalan lebih lama tanpa terlalu ngilu, bahkan sudah bisa memandikan bayi sendirian.
Sekitar satu bulan setelah operasi, tubuh terasa jauh lebih normal.
Bekas operasi sendiri setelah sekitar satu minggu sudah tidak terlalu nyeri, terutama setelah obat habis. Soal rasa takut bergerak? Tidak sempat. Bayi tetap harus diurus, mau tidak mau.
Hal yang Paling Membantu Proses Pemulihan Caesar
Hal terpenting selama pemulihan adalah bantuan suami.
Di masa awal, bangun dari tidur adalah tantangan besar karena tidak bisa langsung duduk atau berdiri. Kehadiran dan bantuan pasangan benar-benar mempercepat proses pemulihan secara fisik dan mental.
Aku tidak merasa memaksakan diri atau menyesali hal tertentu selama masa pemulihan. Semua dijalani sesuai kemampuan tubuh.
Pesan untuk Ibu yang Akan Menjalani Operasi Caesar
Santai saja.
Mau melahirkan caesar atau normal, semuanya adalah perjuangan melahirkan seorang bayi. Memang sakit, tapi semua itu terasa sepadan saat melihat bayi lahir dan tumbuh.
Dan satu hal penting yang perlu ditegaskan:
melahirkan caesar bukan tanda kelemahan.
Itu adalah pilihan. Semua ibu yang melewati proses melahirkan itu kuat—baik caesar maupun normal. Sakitnya berbeda, tapi perjuangannya sama.


0 Komentar